Di Surabaya, banyak warga baru menyadari risiko diabetes yang mereka hadapi setelah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis yang diadakan di ...

Di Surabaya, banyak warga baru menyadari risiko diabetes yang mereka hadapi setelah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis yang diadakan di Puskesmas Made. Kegiatan ini diselenggarakan oleh sebuah tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra (FK UC) Surabaya.
Acara bertema "Memberdayakan Komunitas Mencegah Diabetes: Strategi Intervensi Gaya Hidup dan Dukungan Kesehatan Holistik" ini menarik perhatian sekitar 100 peserta. Sebagian besar peserta adalah kader PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) dan masyarakat yang memiliki risiko tinggi terkena diabetes.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta memiliki kadar gula darah sewaktu di atas 200 mg/dl. Angka ini merupakan salah satu indikasi diabetes, meskipun sebelumnya mereka tidak pernah didiagnosis menderita penyakit tersebut.
"Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah memiliki tanda-tanda diabetes. Padahal, deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi," ujar dr. Florence Pribadi, M.Si, seorang dosen sekaligus Wakil Dekan FK UC.
Dr. Florence menjelaskan bahwa pergeseran gaya hidup menjadi penyebab utama peningkatan kasus diabetes, bahkan pada usia muda. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang kurang disadari, seperti pola makan yang tidak sehat, dapat memicu dan memperberat risiko penyakit ini. Ia mencontohkan makanan sehari-hari seperti sambal, yang seringkali mengandung gula tersembunyi.
Peran Ibu dalam Pencegahan Diabetes
Para ibu memiliki peran sentral dalam menyiapkan menu makanan sehari-hari bagi keluarga. Mereka bertanggung jawab untuk menjaga jenis makanan yang dikonsumsi, jumlah porsi, dan jadwal makan yang teratur.
"Ibu memiliki peran penting dalam menyiapkan menu keluarga. Dengan ibu yang sehat, satu keluarga bahkan satu lingkungan bisa sehat," tegas dr. Florence.
Komplikasi Diabetes dan Pentingnya Deteksi Dini
dr. Maria Jessica Rachman, M.Si menambahkan bahwa diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu komplikasi serius, mulai dari retinopati (kerusakan pada retina mata) hingga risiko amputasi. Oleh karena itu, deteksi dini sangat dianjurkan, idealnya dimulai sejak usia 18 tahun.
"Minimal setahun sekali, misalnya di hari ulang tahun, manfaatkan kesempatan pemeriksaan kesehatan gratis yang disediakan oleh pemerintah," sarannya.
Kolaborasi Internasional dalam Pencegahan Diabetes
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Prof. Dr. Mohd. Aznan Bin Md. Aris dan Assoc. Prof. Dr. Maizura Binti Mohd Zainudin dari International Islamic University Malaysia (IIUM). Mereka menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam upaya pencegahan diabetes. Edukasi berbasis komunitas dinilai lebih efektif karena lebih mudah diterima oleh masyarakat dibandingkan hanya melalui paparan teori.
Dr. Maizura mengakui bahwa mengedukasi masyarakat tentang pencegahan diabetes memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam mengajak mereka untuk memperhatikan pola makan. Namun, ia mengapresiasi antusiasme masyarakat di sekitar Puskesmas Made dalam mengikuti kegiatan tersebut.
"Pencegahan memang tidak memberikan hasil instan, tetapi jika dilakukan sedikit demi sedikit secara terus-menerus, dampaknya akan sangat besar," ujar Dr. Maizura.
Data Kasus Diabetes di Indonesia
Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa lebih dari 8,2 juta orang telah menjalani skrining kesehatan melalui program pemerintah. Hasilnya, 5,9 persen terdeteksi menderita diabetes, dan 1 dari 10 orang berusia di atas 40 tahun sudah terdiagnosis penyakit ini.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 juga menunjukkan bahwa 11,7 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas terindikasi diabetes. Dari angka tersebut, sekitar 50,2 persen merupakan diabetes tipe 2, yang umumnya dialami oleh lansia.
Temuan-temuan ini menjadi pengingat bahwa diabetes tidak boleh dianggap remeh. Deteksi dini dan penerapan pola hidup sehat merupakan kunci utama agar masyarakat dapat terhindar dari komplikasi serius di masa depan.
Pendampingan Perubahan Gaya Hidup
Ketua Panitia, Dr dr Salmon Charles Siahaan, SpOG, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar pemeriksaan kesehatan, tetapi juga pendampingan agar masyarakat memahami pentingnya perubahan gaya hidup.
Kegiatan ini dirancang sebagai wadah pembelajaran dan pendampingan, khususnya bagi kelompok geriatri (lansia) dan masyarakat dengan risiko tinggi diabetes. Peserta mendapatkan edukasi mengenai pola makan sehat dan aktivitas fisik sederhana melalui seminar dan workshop secara langsung.
Pemeriksaan gula darah dan kolesterol gratis juga diberikan untuk mendeteksi risiko sejak dini.
"Perubahan kecil dalam pola makan dan aktivitas dapat memberikan dampak besar dalam mencegah diabetes," ujarnya.
Tips Mencegah Diabetes:
- Perhatikan Pola Makan: Kurangi konsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan olahan. Perbanyak konsumsi buah, sayur, dan biji-bijian utuh.
- Aktif Bergerak: Lakukan aktivitas fisik secara teratur, minimal 30 menit setiap hari. Aktivitas fisik dapat berupa jalan kaki, jogging, bersepeda, atau berenang.
- Jaga Berat Badan Ideal: Kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko diabetes. Usahakan untuk menjaga berat badan dalam rentang yang sehat.
- Hindari Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan: Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes dan masalah kesehatan lainnya.
- Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Rutin: Lakukan pemeriksaan gula darah secara rutin, terutama jika Anda memiliki faktor risiko diabetes. Deteksi dini dapat membantu mencegah komplikasi serius.