Ringkasan Berita: Komika Tretan Muslim mengungkapkan kritik terhadap pendekatan yang dilakukan Kepala BGN dalam menangani kasus keracunan ...
Ringkasan Berita:
- Komika Tretan Muslim mengungkapkan kritik terhadap pendekatan yang dilakukan Kepala BGN dalam menangani kasus keracunan MBG.
- Tretan menyarankan agar kunjungan ke korban tidak perlu dijadikan bahan konten.
- Tretan menganggap masyarakat tidak hanya memerlukan konten atau kunjungan dari pejabat
Perhatian terhadap isu keracunan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali muncul. Kali ini, kreator konten Tretan Muslim memberikan kritik tajam terhadap metode yang digunakan oleh pejabat dalam menangani kasus yang melibatkan anak-anak sebagai korban.
Menurut Tretan Muslim, isu ini seharusnya tidak berhenti pada kunjungan pejabat ke rumah sakit atau pernyataan bahwa pihak yang bersalah akan diberi sanksi.
Ia meragukan metode kunjungan kepada korban, kemudian ditampilkan dalam bentuk konten.
Kritik tersebut diungkapkan Tretan Muslim saat membahas tanggapan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap kasus keracunan MBG.
Tekankan Kehadiran Kepala BGN di Rumah Sakit
Tretan Muslim menyebutkan kegiatan Kepala BGN yang mengunjungi beberapa rumah sakit tempat korban keracunan sedang menjalani pengobatan.
Dengan nada mengolok-olok, ia menyebut kunjungan itu seakan bukan bagian dari proses pembuatan konten.
Dia juga sibuk mengunjungi rumah sakit-rumah sakit yang menjadi tempat para korban keracunan. Bukan untuk konten, dia pergi ke sana bukan untuk konten. Kebetulan memang kameranya cukup bagus dan suaranya jernih. Tapi itu bukan berarti dia sedang melakukan konten di rumah sakit tempat para korban, kata Tretan Muslim dilansir TribunTrends dari kanal YouTube-nya, Kamis, 20 Agustus 2026.
Bagi Tretan, kehadiran kamera dan dokumentasi yang tampak profesional justru memungkinkan publik menilai sendiri apakah kunjungan tersebut hanya sekadar aktivitas lapangan atau sudah disusun menjadi sebuah konten.
Ia selanjutnya memberikan rekomendasi terbuka kepada Kepala BGN agar tidak memanfaatkan kesempatan mengunjungi korban sebagai bahan konten.
"Enggak Usah Dikontenin"
Tretan Muslim menganggap kedatangan pejabat ke rumah sakit untuk meninjau kondisi korban merupakan tindakan yang wajar dan penting.
Namun, menurutnya, masalah muncul ketika kunjungan tersebut kemudian dipublikasikan dalam bentuk tayangan visual yang sangat diolah.
Bisa nggak kasih saran ke kepala BGN kalau saat berkunjung ke orang jangan dijadikan konten. Orang nggak akan merasa hebat. Ada juga yang mungkin bilang, 'Wih keren. Kepala BGR-nya datang.' Tapi menurut saya lebih baik nggak usah dibuat konten. Apalagi konten kamu bagus, kameranya jernih, suaranya jelas, itu sudah sangat memadai.
Tretan tampaknya ingin mengingatkan bahwa dalam kondisi di mana anak-anak menjadi korban dugaan masalah makanan, fokus utama seharusnya berada pada keadaan korban dan penyelesaian permasalahan.
Kunjungan para pejabat, menurutnya, tidak perlu selalu diiringi dengan cerita yang menarik perhatian masyarakat.
Terlebih lagi ketika masyarakat masih menantikan jawaban atas pertanyaan yang lebih besar: bagaimana kejadian itu terjadi, siapa yang bertanggung jawab, dan tindakan keras apa yang akan diambil?
Masyarakat Dikatakan Tidak Hanya Memerlukan Konten
Kritik Tretan Muslim kemudian berkembang lebih jauh. Ia menganggap masyarakat tidak begitu memerlukan dokumentasi terkait kedatangan pejabat ke rumah sakit.
Menurutnya, masyarakat memerlukan tindakan nyata dan kejelasan hukum.
Masyarakat sebenarnya tidak membutuhkan kontennya, tidak membutuhkannya, mungkin tidak terlalu membutuhkan kehadiran Anda, Anda berbicara bahwa saya akan mencopot itu... Yang paling penting adalah siapa tersangkanya, siapa yang bertanggung jawab... Yang paling dibutuhkan adalah Anda menindak dan menetapkan orang yang bertanggung jawab atas keracunan anak-anak ini.
Pernyataan itu merupakan bagian paling tajam dari kritik Tretan.
Ia menganggap masalah penegakan hukum lebih utama dibandingkan dengan citra yang dibentuk melalui dokumentasi aktivitas pejabat.
Menurutnya, ketika terjadi kasus keracunan dan anak-anak menjadi korban, masyarakat memerlukan jaminan bahwa ada pihak yang benar-benar bertanggung jawab.
Bukan Hanya Datang dan Berkata
Bagi Tretan, masalah utama bukanlah apakah seorang pejabat mengunjungi korban atau tidak.
Kehadiran pejabat di rumah sakit memang bisa menjadi bentuk perhatian terhadap para korban. Namun, kedatangan tersebut dinilai kurang memadai jika tidak disertai tindakan nyata untuk mengungkap penyebab utama masalah.
Ia menekankan pentingnya menentukan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
Oleh karena itu, perhatian masyarakat tidak berhenti pada saat pejabat memasuki rumah sakit, berkomunikasi dengan korban, atau memberikan janji akan mengambil tindakan tegas.
Selain itu, masyarakat berharap proses hukum berlangsung.
Kritik terhadap Metode Komunikasi Pejabat
Perhatian Tretan juga menunjukkan masalah lain dalam menghadapi krisis, yaitu metode pegawai pemerintah berkomunikasi dengan warga.
Di tengah kondisi yang rentan seperti insiden keracunan makanan, setiap tindakan yang dilakukan oleh pejabat bisa dengan cepat menjadi perhatian masyarakat. Dokumentasi yang terlalu mencolok justru berisiko menciptakan pandangan yang berbeda di kalangan publik.
Oleh karena itu, Tretan menyarankan agar para pejabat lebih fokus pada tindakan daripada promosi.
Bukan masalah apakah penggunaan kamera diperbolehkan atau tidak, tetapi bagaimana komunikasi tersebut ditempatkan dalam konteks penderitaan para korban.
Saat keluarga masih khawatir dan anak-anak memerlukan perawatan, masyarakat tentu lebih mengharapkan jawaban tentang penyebab kejadian serta tindakan yang dapat diambil untuk menghindari terulangnya kejadian serupa.
Ujung Kritik: Pertanggungjawaban
Pada akhirnya, kritik yang diungkapkan Tretan Muslim mengarah pada satu hal, yaitu tanggung jawab.
Ia meragukan apakah masyarakat hanya akan menerima dokumen kunjungan, pernyataan pejabat, dan janji penghapusan, atau benar-benar melihat pihak yang dimintai pertanggungjawaban.
Bagi Tretan, masalah keracunan MBG bukan hanya menjadi isu komunikasi publik.
Di balik liputan berita dan berbagai dokumentasi, terdapat anak-anak yang memerlukan perawatan serta keluarga yang menghadapi rasa cemas.
Oleh karena itu, menurutnya, langkah yang paling utama bukanlah membuat kunjungan terlihat menarik di depan kamera, tetapi memastikan masalah tersebut diteliti secara menyeluruh.
Kritik ini juga memperpanjang perdebatan tentang bagaimana pemerintah dan pengelola program MBG seharusnya menanggapi setiap kejadian yang terjadi.
Di tengah perhatian masyarakat, tuntutan yang muncul semakin jelas: bukan hanya hadir di tempat kejadian, tetapi berani mengambil langkah dan memastikan pihak yang bertanggung jawab benar-benar dipertanyakan.
***
(TribunTrends)